WhatsApp Icon
Amalan Pembuka Rezeki di Bulan Safar yang Dianjurkan Rasulullah

Islam Mengajarkan Ikhtiar dan Tawakal, Bukan Mempercayai Kesialan Bulan Safar

MAJALENGKA – Memasuki bulan Safar, sebagian masyarakat masih mengaitkannya dengan berbagai mitos tentang kesialan dan musibah. Padahal, Islam menegaskan bahwa tidak ada satu pun bulan yang membawa kesialan secara khusus. Sebaliknya, Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat keimanan, dan berikhtiar memperoleh rezeki yang halal melalui ibadah yang sesuai dengan tuntunan syariat.

Amalan pembuka rezeki di bulan Safar pada hakikatnya bukanlah ritual khusus yang hanya dilakukan pada bulan tersebut, melainkan berbagai ibadah yang dapat diamalkan sepanjang waktu. Di antaranya adalah memperbanyak istighfar, menjaga salat, memperbanyak sedekah, menjalin silaturahmi, meningkatkan ketakwaan, serta bertawakal kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar secara maksimal.

Bulan Safar Bukan Bulan Sial

Rasulullah SAW telah meluruskan keyakinan masyarakat Arab pada masa jahiliah yang menganggap bulan Safar sebagai bulan pembawa kesialan.

Beliau bersabda:

"Tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya, tidak ada kesialan karena burung, tidak ada kesialan pada bulan Safar, dan tidak ada hantu."

(HR. Bukhari No. 5757 dan Muslim No. 2220)

Hadis tersebut menjadi dasar bahwa seorang muslim tidak boleh mengaitkan datangnya musibah ataupun sempitnya rezeki dengan bulan Safar. Setiap kejadian terjadi atas ketetapan Allah SWT dan menjadi bagian dari ujian kehidupan.

Rezeki Datang dari Allah SWT

Allah SWT telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya sebagaimana firman-Nya:

"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya."

(QS. Hud: 6)

Namun demikian, Islam mengajarkan bahwa rezeki harus diupayakan melalui kerja keras, doa, ibadah, dan tawakal kepada Allah SWT.

Amalan Pembuka Rezeki yang Dianjurkan Rasulullah

1. Memperbanyak Istighfar

Allah SWT berfirman:

"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu."

(QS. Nuh: 10–12)

Istighfar menjadi salah satu sebab turunnya ampunan sekaligus keberkahan rezeki.


2. Memperbanyak Doa Memohon Rezeki

Rasulullah SAW mengajarkan doa:

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal sehingga aku tidak membutuhkan yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu."

(HR. Tirmidzi)

Doa tersebut dapat diamalkan setelah salat maupun pada waktu-waktu mustajab.


3. Menjaga Salat Lima Waktu

Allah SWT berfirman:

"Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu."

(QS. Taha: 132)

Salat menjadi fondasi utama dalam kehidupan seorang muslim dan menjadi sebab datangnya keberkahan hidup.


4. Memperbanyak Sedekah

Rasulullah SAW bersabda:

"Harta tidak akan berkurang karena sedekah."

(HR. Muslim No. 2588)

Sedekah bukan hanya membantu sesama, tetapi juga menjadi sebab datangnya keberkahan, ketenangan hati, dan kemudahan dalam berbagai urusan.


5. Menjalin Silaturahmi

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Silaturahmi merupakan amalan yang memiliki keutamaan besar dalam Islam.


6. Bertakwa kepada Allah SWT

Allah SWT berfirman:

"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."

(QS. At-Talaq: 2–3)

Ketakwaan menjadi kunci datangnya pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT.


7. Bertawakal Setelah Berusaha

Rasulullah SAW bersabda:

"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang."

(HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa tawakal harus disertai usaha dan kerja keras.

Hal yang Perlu Dihindari pada Bulan Safar

Dalam menjalankan ibadah di bulan Safar, umat Islam hendaknya menghindari berbagai keyakinan yang tidak memiliki landasan syariat, antara lain:

  • Meyakini bulan Safar membawa kesialan.
  • Menganggap ritual tertentu pasti membuka pintu rezeki tanpa dalil.
  • Mempercayai jimat atau benda-benda tertentu sebagai penarik rezeki.
  • Mengamalkan hadis palsu maupun tradisi yang bertentangan dengan akidah Islam.

Islam mengajarkan bahwa seluruh ibadah harus bersumber dari Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW.

Mengisi Bulan Safar dengan Amal Saleh

Selain amalan di atas, bulan Safar dapat diisi dengan berbagai aktivitas yang bernilai ibadah, seperti:

  • Membaca Al-Qur'an setiap hari.
  • Memperbanyak zikir pagi dan petang.
  • Menunaikan salat sunnah.
  • Membantu fakir miskin dan kaum dhuafa.
  • Berbakti kepada orang tua.
  • Menjaga kejujuran dalam bekerja.
  • Menunaikan zakat apabila telah memenuhi syarat.
  • Memperbanyak doa untuk keluarga dan umat Islam.

Seluruh amal tersebut menjadi sebab bertambahnya keberkahan hidup apabila dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.

Mari Sempurnakan Ibadah dengan Berzakat Melalui BAZNAS Kabupaten Majalengka

Momentum bulan Safar menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperkuat keimanan sekaligus meningkatkan kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Berbagi kepada sesama bukan hanya menghadirkan manfaat bagi mustahik, tetapi juga menjadi ikhtiar memperoleh keberkahan rezeki sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.

Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui:

Bank BJB : 0137402262100
BRI : 004601002689569
BSI : 7313997361
Mandiri : 1340000833334
BJB Syariah : 5190301001182

Website: https://kabmajalengka.baznas.go.id/sedekah

Layanan Muzakki (WhatsApp): 0821-2416-9964

Telepon: (0233) 282414

 

Email: [email protected]

#MajalengkaLangkungSae #SAEkeunMajalengka #BAZNASMajalengka #BAZNASRI #BulanSafar #Safar #AmalanSafar #RezekiBerkah #Sedekah #Zakat #Infak #Istighfar #Silaturahmi #IslamRahmatanLilAlamin #CintaZakat #BerbagiKebaikan #MenebarKeberkahan #KajianIslam #MuslimIndonesia

26/07/2026 | Kontributor: Eman Suherman, S.Pd.I.
Mengapa Zakat Penting untuk Mengurangi Kemiskinan? BAZNAS Majalengka Dorong Pemberdayaan Mustahik Berkelanjutan

MAJALENGKA — Kemiskinan masih menjadi salah satu tantangan sosial yang memerlukan perhatian dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Dalam Islam, zakat merupakan instrumen ekonomi yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mengurangi kemiskinan melalui pemerataan kesejahteraan, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan solidaritas sosial.

Melalui pengelolaan zakat yang amanah, profesional, dan tepat sasaran, BAZNAS Kabupaten Majalengka terus mengoptimalkan pendistribusian dana zakat agar mampu membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus menciptakan kemandirian ekonomi bagi para mustahik.

Zakat Menjadi Instrumen Penting Pengentasan Kemiskinan

Sebagai salah satu rukun Islam, zakat memiliki fungsi sosial yang sangat besar. Dana zakat yang dihimpun dari para muzaki disalurkan kepada delapan golongan penerima (asnaf) sesuai syariat Islam.

Selain membantu memenuhi kebutuhan konsumtif masyarakat yang membutuhkan, zakat juga diarahkan pada program-program produktif yang mampu meningkatkan kapasitas ekonomi mustahik sehingga mereka memiliki kesempatan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.

Pengelolaan zakat yang profesional memungkinkan lahirnya berbagai program pemberdayaan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dakwah, kemanusiaan, hingga sosial kemasyarakatan yang memberikan manfaat berkelanjutan.

Bagaimana Zakat Membantu Mengurangi Kemiskinan?

Optimalisasi dana zakat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program, antara lain:

  • Membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat seperti pangan, sandang, dan tempat tinggal.
  • Memberikan akses pendidikan melalui beasiswa dan bantuan pendidikan bagi pelajar dari keluarga kurang mampu.
  • Mendukung layanan kesehatan melalui bantuan biaya pengobatan dan program kesehatan masyarakat.
  • Memberikan modal usaha, pelatihan keterampilan, serta pendampingan kepada pelaku usaha mikro agar mampu mandiri secara ekonomi.
  • Mengurangi kesenjangan sosial melalui distribusi kekayaan yang lebih adil sesuai prinsip ekonomi Islam.

Dengan pendekatan tersebut, zakat tidak hanya menyelesaikan persoalan jangka pendek, tetapi juga menjadi instrumen pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

BAZNAS Majalengka Terus Mengembangkan Program Pemberdayaan

Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, BAZNAS Kabupaten Majalengka berkomitmen mengelola dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) secara amanah, profesional, transparan, dan akuntabel.

Dana yang dihimpun disalurkan melalui berbagai program unggulan di bidang:

  • Pemberdayaan ekonomi masyarakat
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Kemanusiaan
  • Dakwah dan Advokasi
  • Program sosial kemasyarakatan

Pendekatan pemberdayaan menjadi fokus utama agar mustahik tidak hanya menerima bantuan sesaat, tetapi memiliki kesempatan meningkatkan kualitas hidup hingga menjadi masyarakat yang mandiri bahkan bertransformasi menjadi muzaki di masa depan.

Mari Tunaikan Zakat Melalui BAZNAS Kabupaten Majalengka

Setiap zakat yang ditunaikan menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam mengurangi kemiskinan, memperkuat solidaritas sosial, serta meningkatkan kesejahteraan umat.

BAZNAS Kabupaten Majalengka mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat melalui lembaga resmi agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas, tepat sasaran, dan berkelanjutan.

Rekening Zakat BAZNAS Kabupaten Majalengka

  • Bank BJB: 0137402262100
  • BRI: 004601002689569
  • BSI: 7313997361
  • Mandiri: 1340000833334
  • BJB Syariah: 5190301001182

Layanan Informasi:

 

???? WhatsApp Muzakki: 0821-2416-9964
?? Telepon: (0233) 282414
???? Email: [email protected]
???? Website: kabmajalengka.baznas.go.id/sedekah

#MajalengkaLangkungSae #SAEkeunMajalengka #BAZNASMajalengka #BAZNASRI #Zakat #ZakatProduktif #PengentasanKemiskinan #PemberdayaanMustahik #EkonomiUmat #KesejahteraanMasyarakat #Berzakat #ZakatBerkah #CintaZakat #Sedekah #IslamRahmatanLilAlamin #Majalengka #UntukIndonesia

26/07/2026 | Kontributor: Eman Suherman, S.Pd.I.
Peran Zakat dalam Membantu Korban Bencana dan Krisis Kemanusiaan

MAJALENGKA 26 Juni 2026 Zakat memiliki peran strategis dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana alam maupun krisis kemanusiaan. Sebagai instrumen ekonomi syariah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan umat, zakat tidak hanya memenuhi kebutuhan darurat para penyintas, tetapi juga mendukung proses rehabilitasi dan pemberdayaan agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara mandiri.

Melalui pengelolaan yang profesional, transparan, dan sesuai syariat, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menyalurkan dana zakat kepada masyarakat yang berhak menerima (mustahik), termasuk korban bencana yang kehilangan tempat tinggal, sumber penghasilan, maupun akses terhadap kebutuhan dasar.

Zakat Menjadi Solusi dalam Situasi Darurat

Dalam setiap kejadian bencana, kebutuhan masyarakat meningkat secara signifikan. Bantuan berupa makanan, air bersih, layanan kesehatan, pakaian, tempat tinggal sementara, hingga perlengkapan pendidikan menjadi kebutuhan utama yang harus segera dipenuhi.

Dana zakat yang dikelola BAZNAS dimanfaatkan untuk mendukung berbagai program kemanusiaan, di antaranya:

  • Bantuan tanggap darurat bagi korban bencana.
  • Distribusi logistik dan kebutuhan pokok.
  • Layanan kesehatan bagi penyintas.
  • Bantuan pendidikan bagi anak-anak terdampak.
  • Penyediaan hunian sementara.
  • Rehabilitasi fasilitas umum.
  • Program pemulihan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat pascabencana.

Melalui pendekatan tersebut, zakat tidak hanya memberikan bantuan sesaat, tetapi juga menjadi bagian dari proses pemulihan kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.

Komitmen BAZNAS dalam Penanganan Bencana

Sebagai lembaga resmi pengelola zakat di Indonesia, BAZNAS terus memperkuat berbagai program kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana maupun krisis kemanusiaan.

Penyaluran bantuan dilakukan secara tepat sasaran dengan mengedepankan prinsip amanah, transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme. Selain memenuhi kebutuhan mendesak, program-program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat agar mampu bangkit kembali setelah bencana.

Kolaborasi dengan pemerintah, relawan, berbagai lembaga, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan bantuan dapat diterima secara cepat dan efektif oleh para penyintas.

Zakat sebagai Wujud Kepedulian Sosial

Zakat mengajarkan nilai kepedulian, solidaritas, dan tanggung jawab sosial. Melalui zakat, umat Islam diajak untuk berbagi rezeki dengan saudara-saudara yang sedang menghadapi musibah maupun kesulitan ekonomi.

Optimalisasi pengelolaan zakat menjadi salah satu upaya nyata dalam memperkuat sistem perlindungan sosial berbasis syariah, sekaligus mendukung pembangunan masyarakat yang lebih tangguh terhadap berbagai risiko bencana dan krisis kemanusiaan.

Semakin banyak masyarakat yang menunaikan zakat melalui lembaga resmi, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan oleh para mustahik di berbagai daerah.


Mari Tunaikan Zakat melalui BAZNAS Kabupaten Majalengka

Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui:

Rekening Donasi:

  • Bank BJB: 0137402262100
  • Bank BRI: 004601002689569
  • Bank BSI: 7313997361
  • Bank Mandiri: 1340000833334
  • Bank BJB Syariah: 5190301001182

Informasi dan Layanan:

???? Website Sedekah:
https://kabmajalengka.baznas.go.id/sedekah

???? Website Resmi:
https://kabmajalengka.baznas.go.id

???? Layanan Muzakki (WhatsApp): 0821-2416-9964

?? Telepon: (0233) 282414

 

???? Email: [email protected]

#MajalengkaLangkungSae #SAEkeunMajalengka #BAZNASMajalengka #BAZNASRI #Zakat #ZakatUntukBencana #BantuanKemanusiaan #KrisisKemanusiaan #PeduliSesama #BerbagiKebaikan #TanggapBencana #PemulihanPascabencana #Mustahik #Sedekah #Infak #IndonesiaPeduli

26/07/2026 | Kontributor: Eman Suherman, S.Pd.I.
BAZNAS RI Buka Jalan Ikhtiar Mustahik Bekerja di Jepang, BAZNAS Majalengka Siap Tangkap Peluang untuk Wujudkan Majalengka Langkung Sae

Majalengka – Ikhtiar memuliakan mustahik melalui pemberdayaan ekonomi terus diwujudkan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI. Bersinergi dengan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI), BAZNAS RI menghadirkan Program Fasilitasi Magang ke Jepang, sebuah program yang membuka jalan bagi para mustahik memperoleh kesempatan bekerja secara profesional di berbagai perusahaan Jepang dengan penghasilan bersih mencapai Rp8 juta hingga Rp20 juta per bulan.

Program tersebut menjadi bukti nyata bahwa dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang diamanahkan oleh masyarakat tidak hanya disalurkan untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan yang mampu mengubah kehidupan mustahik menuju kemandirian ekonomi.

Informasi tersebut disampaikan dalam kegiatan BAZNAS Knowledge Sharing bertajuk "Program Fasilitasi Magang ke Jepang Bersama BAZNAS RI dan Kemenaker" yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) BAZNAS RI dan disiarkan melalui kanal YouTube BAZNAS TV pada Selasa (21/7/2026). Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan dan amil BAZNAS Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Indonesia, termasuk BAZNAS Kabupaten Majalengka.

Kepala Divisi Pendidikan dan Vokasional BAZNAS RI, Farid Septian, M.Hum, menjelaskan bahwa hingga Juli 2026 program tersebut telah menjangkau 166 penerima manfaat yang berasal dari 10 provinsi melalui delapan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).

Sebanyak 60 peserta di antaranya telah menjalani praktik kerja di berbagai perusahaan di Jepang pada sektor pengolahan plastik, pengerjaan logam, konstruksi, penataan dan pengepakan, hingga sektor industri lainnya.

"Mereka memperoleh penghasilan bersih sekitar Rp8 juta hingga Rp20 juta per bulan, bergantung pada sektor pekerjaan dan perusahaan tempat mereka bekerja," ujar Farid.

Menurutnya, program tersebut merupakan bentuk ikhtiar BAZNAS dalam menghadirkan solusi yang berkelanjutan bagi mustahik. Tidak hanya meningkatkan keterampilan dan pengalaman kerja bertaraf internasional, tetapi juga memberikan kesempatan memperoleh penghasilan yang layak sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Farid juga mendorong agar BAZNAS Daerah membangun sinergi bersama Dinas Ketenagakerjaan, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), dunia usaha, serta berbagai mitra strategis agar program serupa dapat dikembangkan di berbagai daerah.

Sementara itu, Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, H. Idy Muzayyad, menegaskan bahwa kolaborasi BAZNAS dengan Kementerian Ketenagakerjaan merupakan langkah strategis dalam mempercepat pengentasan kemiskinan melalui penciptaan akses kerja yang berkelanjutan.

Menurutnya, setiap program pemberdayaan yang dijalankan BAZNAS merupakan amanah dari para muzaki yang harus dikelola secara profesional, transparan, dan penuh tanggung jawab.

"Intervensi BAZNAS melalui program ini diarahkan agar mustahik mampu keluar dari garis kemiskinan hingga pada akhirnya bertransformasi menjadi muzaki yang turut berkontribusi dalam membangun kesejahteraan umat," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa seluruh program BAZNAS dilaksanakan berdasarkan prinsip Aman Syar'i, Aman Regulasi, dan Aman NKRI, sehingga manfaat zakat benar-benar dirasakan masyarakat secara luas.

BAZNAS Kabupaten Majalengka Siap Menyambut Peluang

Menanggapi keberhasilan program tersebut, Ketua BAZNAS Kabupaten Majalengka, H. Agus Asri Sabana, S.Ag., M.Si., C.Me., CPArb., menyampaikan apresiasi atas inovasi pemberdayaan yang diinisiasi BAZNAS RI bersama Kemnaker RI.

Menurutnya, program tersebut menjadi inspirasi sekaligus peluang besar bagi daerah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dari kalangan mustahik melalui jalur pelatihan vokasional dan penempatan kerja yang profesional.

"Bismillahirrahmanirrahim. Program fasilitasi kerja ke Jepang ini merupakan peluang besar yang harus kita sambut dengan penuh rasa syukur dan semangat ikhtiar. BAZNAS Kabupaten Majalengka siap mengambil bagian, bersinergi dengan BAZNAS RI, Pemerintah Daerah, Dinas Ketenagakerjaan, lembaga pelatihan kerja, dunia usaha, serta seluruh pemangku kepentingan agar putra-putri terbaik dari kalangan mustahik di Kabupaten Majalengka memiliki kesempatan meningkatkan kompetensi, memperoleh pekerjaan yang layak, dan mengangkat harkat ekonomi keluarganya," ujar H. Agus Asri Sabana.

Ia menambahkan bahwa hakikat zakat bukan sekadar membantu memenuhi kebutuhan sesaat, melainkan menjadi wasilah untuk membangun kemandirian umat sebagaimana tujuan syariat dalam mewujudkan kemaslahatan.

"Kami meyakini bahwa zakat yang dikelola secara amanah akan melahirkan mustahik yang berdaya, mandiri, dan insya Allah kelak menjadi muzaki. Inilah cita-cita besar BAZNAS, menghadirkan keberkahan zakat yang mampu mengubah kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, BAZNAS Kabupaten Majalengka akan berupaya menangkap peluang ini sebagai bagian dari ikhtiar bersama memajukan Kabupaten Majalengka agar semakin Langkung Sae—masyarakatnya lebih sejahtera, lebih produktif, lebih berdaya saing, serta memperoleh keberkahan hidup di bawah ridha Allah SWT."

H. Agus juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat budaya gotong royong melalui zakat, infak, dan sedekah sebagai bentuk kepedulian sosial yang mampu melahirkan program-program pemberdayaan yang berkelanjutan.

Menurutnya, ketika zakat dikelola secara profesional dan tepat sasaran, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penerima manfaat, tetapi juga menjadi investasi sosial yang memperkuat ketahanan ekonomi daerah dan mempercepat terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dan bermartabat.

Program fasilitasi kerja ke Jepang menjadi salah satu contoh nyata bagaimana zakat mampu menghadirkan harapan baru bagi mustahik. Melalui peningkatan kompetensi, akses pekerjaan yang layak, dan pendapatan yang lebih baik, diharapkan semakin banyak keluarga mustahik yang dapat keluar dari lingkaran kemiskinan dan menjadi pribadi yang mandiri.

Semoga ikhtiar kolaboratif antara BAZNAS RI, pemerintah, dunia usaha, serta BAZNAS di seluruh Indonesia senantiasa mendapat pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT, sehingga zakat benar-benar menjadi instrumen kebangkitan ekonomi umat, mewujudkan kesejahteraan masyarakat, serta menghadirkan Indonesia yang semakin maju, berkeadilan, dan penuh keberkahan.

"Khairunnas anfa'uhum linnas" — Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

#MajalengkaLangkungSae #SAEkeunMajalengka #BAZNAS #BAZNASRI #BAZNASMajalengka #MagangJepang #Kemnaker #PemberdayaanMustahik #PendayagunaanZakat #ZakatUntukIndonesia #MustahikBerdaya #IndonesiaMakmur

26/07/2026 | Kontributor: Eman Suherman, S.Pd.I.
Santri Sekolah Cendekia BAZNAS Harumkan Jawa Barat di Forum Pelajar Indonesia 2026

26 Juli 2026 | Humas BAZNAS Kabupaten Majalengka

MAJALENGKA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan keluarga besar Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Tiga santri Sekolah Cendekia BAZNAS (SCB) berhasil lolos seleksi nasional dan dipercaya menjadi wakil Provinsi Jawa Barat pada ajang Forum Pelajar Indonesia (FOR) ke-14 yang akan diselenggarakan di Jakarta pada 5–8 Agustus 2026. Keberhasilan tersebut menjadi bukti nyata bahwa program pendidikan BAZNAS mampu melahirkan generasi muda yang unggul, berkarakter, dan siap bersaing di tingkat nasional.

Ketiga santri tersebut adalah Muhammad Azriel Abqori (kelas X), Dini Qurrota Aini, dan Reymario Randhy Pangestu (kelas XII). Mereka terpilih setelah melalui proses seleksi nasional yang diikuti ribuan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia, hingga akhirnya masuk dalam jajaran 150 pelajar SMA, SMK, dan MA terbaik yang akan mengikuti forum bergengsi tersebut.

Forum Pelajar Indonesia merupakan wadah pengembangan kepemimpinan generasi muda yang mempertemukan pelajar-pelajar berprestasi dari seluruh Indonesia untuk berdiskusi, bertukar gagasan, serta merumuskan solusi atas berbagai isu strategis di bidang pendidikan, perlindungan anak, dan pembangunan sumber daya manusia.

Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, H. Idy Muzayyad, S.H.I., M.Si., menyampaikan rasa syukur atas capaian para santri Sekolah Cendekia BAZNAS.

Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari sinergi antara kerja keras para santri, dedikasi para pendidik, serta dukungan para muzaki yang mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya melalui BAZNAS sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

"Terpilihnya tiga santri Sekolah Cendekia BAZNAS sebagai wakil Jawa Barat merupakan kebanggaan bagi BAZNAS. Prestasi ini menunjukkan bahwa santri SCB memiliki kemampuan akademik, kepemimpinan, dan daya saing yang mampu bersaing di tingkat nasional," ujar Idy.

Ia menambahkan bahwa pendidikan merupakan salah satu program prioritas BAZNAS dalam mendayagunakan dana zakat secara produktif. Melalui Sekolah Cendekia BAZNAS, BAZNAS terus berupaya mencetak generasi penerus bangsa yang unggul secara intelektual, berakhlak mulia, memiliki jiwa kepemimpinan, serta peduli terhadap persoalan sosial di sekitarnya.

Sementara itu, Ketua BAZNAS Kabupaten Majalengka, H. Agus Asri Sabana, S.Ag., M.Si., C.Me., CPArb., turut menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas prestasi yang diraih para santri Sekolah Cendekia BAZNAS tersebut.

"Kami mengucapkan selamat dan sukses kepada ananda Muhammad Azriel Abqori, Dini Qurrota Aini, dan Reymario Randhy Pangestu yang telah mengharumkan nama Sekolah Cendekia BAZNAS dan Provinsi Jawa Barat di tingkat nasional. Semoga kesempatan ini menjadi pengalaman berharga untuk terus meningkatkan kapasitas diri, memperluas wawasan, serta menjadi generasi muda yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan agama," ujar H. Agus Asri Sabana.

Ia berharap prestasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pelajar lainnya, khususnya generasi muda di Kabupaten Majalengka, agar terus semangat belajar, berprestasi, serta memanfaatkan setiap peluang pengembangan diri yang tersedia.

"BAZNAS meyakini bahwa investasi terbaik adalah investasi pada pendidikan. Melalui pengelolaan zakat yang amanah dan produktif, kami berharap semakin banyak lahir generasi cerdas, berkarakter, dan berdaya saing yang kelak menjadi pemimpin masa depan Indonesia," tambahnya.

Keikutsertaan para santri dalam Forum Pelajar Indonesia diharapkan menjadi momentum untuk memperluas jejaring nasional, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta memperkaya pengalaman dalam merancang berbagai solusi terhadap tantangan yang dihadapi generasi muda Indonesia.

Prestasi ini sekaligus mempertegas komitmen BAZNAS dalam mengoptimalkan pendayagunaan zakat di bidang pendidikan sebagai salah satu instrumen pemberdayaan umat. Dukungan masyarakat melalui zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan kepada BAZNAS telah menjadi bagian penting dalam melahirkan generasi berprestasi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.


#BAZNAS #BAZNASRI #BAZNASMajalengka #SekolahCendekiaBAZNAS #ForumPelajarIndonesia #SantriBerprestasi #Pendidikan #ZakatUntukPendidikan #GenerasiEmasIndonesia #JawaBarat #MajalengkaLangkungSae #SAEkeunMajalengka
26/07/2026 | Kontributor: Eman Suherman, S.Pd.I.

Berita Terbaru

MEMAHAMI MAKNA TA’ABBUDIYAH: MENGAPA JUMLAH RAKAAT SHALAT BERBEDA?
MEMAHAMI MAKNA TA’ABBUDIYAH: MENGAPA JUMLAH RAKAAT SHALAT BERBEDA?
MAJALENGKA, BAZNAS – Dalam menjalankan syariat Islam, umat Muslim seringkali menjumpai ketetapan yang secara lahiriah bersifat dogmatis atau tidak dijelaskan alasan logisnya secara rinci. Hal ini dalam disiplin ilmu fiqih dikenal dengan istilah Ta’abbudiyah, yakni sebuah bentuk kepatuhan murni kepada ketetapan Allah SWT sebagai esensi tertinggi dari ibadah. Pertanyaan-pertanyaan retoris sering muncul di benak kita: Mengapa shalat Isya, Zhuhur, dan Ashar berjumlah empat rakaat di tengah kesibukan manusia, sementara Subuh hanya dua rakaat? Mengapa pula Magrib berjumlah ganjil yakni tiga rakaat? Sejarah Penambahan Rakaat Menilik sejarah pensyariatan shalat, Ummul Mu’minin ‘Aisyah RA memberikan penjelasan mendalam melalui riwayat Bukhari dan Muslim. Beliau mengisahkan bahwa pada awalnya, Allah mewajibkan shalat masing-masing hanya dua rakaat, baik dalam keadaan bermukim (di rumah) maupun bepergian (safar). Namun, seiring dengan peristiwa Hijrah dan menguatnya stabilitas keamanan kaum Muslimin di Madinah, ketetapan tersebut mengalami perubahan. Shalat dalam perjalanan tetap dipertahankan dua rakaat sebagai bentuk keringanan (rukhsah), sementara shalat bagi mereka yang bermukim ditambah menjadi empat rakaat. Hikmah di Balik Bilangan Rakaat Berdasarkan riwayat Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah, terdapat alasan-alasan indah di balik pengecualian jumlah rakaat pada waktu Subuh dan Magrib: Shalat Subuh (2 Rakaat): Meski secara jumlah rakaat paling sedikit, Shalat Subuh memiliki karakteristik "panjangnya bacaan". Rasulullah SAW dan para sahabat terbiasa membaca 60 hingga 100 ayat, bahkan hingga surah-surah panjang seperti Al-Baqarah dan Ali 'Imran dalam dua rakaat tersebut. Kekhusyukan dan durasi waktu inilah yang menjadi penyeimbang jumlah rakaatnya. Shalat Magrib (3 Rakaat): Magrib ditetapkan berjumlah ganjil karena berfungsi sebagai "Witir" atau penutup shalat di siang hari. Sebagaimana shalat malam ditutup dengan Witir, Allah SWT yang Maha Tunggal menyukai hal-hal yang bersifat ganjil sebagai penanda transisi waktu. Pesan Keikhlasan dalam Beribadah Melalui pemahaman ini, BAZNAS Kabupaten Majalengka mengajak seluruh masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kualitas ibadah bukan sekadar sebagai kewajiban rutin, namun sebagai wujud ketundukan total kepada Sang Khalik. Ketidakmampuan nalar manusia dalam menjangkau seluruh rahasia Allah tidak seharusnya menjadi penghalang, melainkan menjadi bukti bahwa ketaatan tanpa menggugat adalah puncak dari keimanan. Sebagaimana kemudahan yang Allah berikan dalam bersuci melalui tayamum saat ketiadaan air, setiap aturan shalat sejatinya mengandung kasih sayang dan hikmah yang mendalam bagi hamba-Nya. Semoga dengan memahami latar belakang sejarah dan hikmah ini, kita semakin termotivasi untuk mendirikan shalat tepat waktu dan menyempurnakan rukun-rukunnya sebagai pondasi utama sebelum menunaikan kewajiban sosial lainnya, seperti zakat, infak, dan sedekah. Taggar: #BAZNASMajalengka #EdukasiIslami #HikmahShalat #Tauhid #FiqihIbadah #KajianIslam #MajalengkaLangkungSae #ZakatTumbuhBermanfaat
BERITA12/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
6 Adab Mencari Ilmu yang Perlu Diketahui
6 Adab Mencari Ilmu yang Perlu Diketahui
MAJALENGKA, BAZNAS – Ilmu bukan sekadar tumpukan informasi yang dihafal, melainkan cahaya yang menuntun pada keberkahan hidup. Dalam tradisi Islam, para ulama salaf senantiasa menempatkan adab di atas ilmu. Hal ini dikarenakan manfaat dan keberkahan ilmu hanya akan diraih apabila penyerapannya dibarengi dengan akhlak mulia dan niat yang tulus. Salah satu rujukan utama dalam tatanan adab menuntut ilmu adalah pesan dari Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah. Ulama besar dari generasi Tabi’ut Tabi’in ini merumuskan enam tahapan emas bagi para pencari ilmu agar aktivitasnya bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Enam Pilar Mencari Ilmu Menurut Imam Abdullah bin Al-Mubarak, keberhasilan seorang penuntut ilmu bertumpu pada enam hal: Ikhlas: Memurnikan niat hanya karena Allah. Mendengar dengan Baik: Memberikan perhatian penuh saat ilmu disampaikan. Memahami: Menggali makna terdalam dari setiap pelajaran. Menulis: Mengikat ilmu dengan catatan agar tidak hilang. Beramal: Mempraktikkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Mengajarkan: Menebar manfaat ilmu kepada orang lain. Tantangan Keikhlasan di Era Digital Fenomena saat ini menunjukkan tantangan besar dalam menjaga poin pertama, yakni Ikhlas. Seringkali, majelis ilmu—baik fisik maupun digital—dihadiri bukan untuk mencari rida Allah, melainkan sekadar mengisi waktu luang, mencari popularitas, atau bahkan mencari celah kesalahan orang lain untuk bahan perdebatan. Kita menyaksikan bagaimana konten dakwah terkadang disajikan dengan cara yang kurang patut, seperti meremehkan pihak lain atau sekadar untuk "gagah-gagahan" intelektual. Padahal, Rasulullah ? menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban agama (fardu ‘ain), dan setiap kewajiban adalah ibadah yang syarat utamanya adalah ikhlas. Niat: Penentu Pahala dan Dosa Pentingnya niat digambarkan secara lugas oleh Imam Al-Syafi’i yang menyebut hadits niat (Innamal a'malu binniyat) mencakup sepertiga atau bahkan 70 cabang ilmu. Begitu krusialnya posisi niat, hingga Imam Al-Bukhari dan Imam Al-Nawawi menempatkan hadits ini sebagai pembuka dalam karya-karya monumental mereka. Tanpa keikhlasan, ibadah yang terlihat mulia secara lahiriah bisa menjadi bumerang di akhirat. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Imam Muslim, salah satu golongan yang pertama kali dilemparkan ke neraka adalah orang yang menuntut dan mengajarkan ilmu serta membaca Al-Qur'an hanya agar dipuji sebagai orang saleh atau qari’. Pesan untuk Muzaki dan Amil Di lingkungan BAZNAS Kabupaten Majalengka, prinsip keikhlasan ini juga menjadi fondasi dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah. Sebagaimana menuntut ilmu adalah ibadah, maka menunaikan kewajiban zakat dan melayani umat juga harus didasari niat yang tulus. "Keikhlasan adalah mesin utama yang menggerakkan keberkahan ilmu dan harta. Tanpa itu, kita hanya akan mendapatkan lelah tanpa pahala," ungkap manajemen BAZNAS Majalengka dalam sebuah kesempatan edukasi. Mari kita kembali menata niat. Semoga setiap langkah kita dalam mencari ilmu dan berbagi manfaat senantiasa dibimbing oleh Allah SWT menuju keridaan-Nya. #BAZNAS #Majalengka #AdabMenuntutIlmu #Ikhlas #ZakatMensejahterakanUmat #IlmuBermanfaat #DakwahIslam #PesanUlama
BERITA12/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
Misteri Terkabulnya Doa: Menemukan Wasilah Syar’i Melalui Keikhlasan untuk Sesama
Misteri Terkabulnya Doa: Menemukan Wasilah Syar’i Melalui Keikhlasan untuk Sesama
MAJALENGKA, BAZNAS – Setiap manusia dipastikan memiliki tumpuan harapan dan untaian doa yang ingin segera dikabulkan oleh Sang Pencipta. Dalam ikhtiar mengetuk pintu langit, tidak jarang sebagian kalangan menempuh berbagai cara—mulai dari yang lurus sesuai syariat hingga tindakan yang justru menjerumuskan pada kemaksiatan dan kekufuran. Fenomena masyarakat yang menempuh jarak jauh demi bersimpuh di makam-makam, melarung sesaji ke laut, hingga memberikan "mahar" kepada oknum-oknum tertentu demi terkabulnya hajat, menunjukkan adanya desakan hati yang terkadang mengaburkan akal sehat. Hal ini seringkali dipicu oleh rasa kurang percaya diri untuk berdoa secara langsung kepada Allah SWT. Pentingnya Perantara (Wasilah) yang Syar’i Dalam diskursus keislaman, konsep wasilah atau perantara dalam berdoa memang diakui, namun memiliki batasan yang tegas. Syariat telah mengatur wasilah yang dibolehkan, seperti bertawasul dengan asmaul husna, amal shalih, maupun meminta doa kepada orang saleh yang masih hidup. Namun, ada satu metode "langit" yang sering terlupakan oleh banyak Muslim: melibatkan doa para malaikat. Makhluk Allah yang suci dan tidak pernah bermaksiat ini merupakan perantara terbaik bagi mereka yang ingin hajatnya didengar oleh Allah SWT. Keutamaan Doa di Balik Punggung Saudara Salah satu cara paling efektif untuk mendapatkan pengawalan doa dari malaikat adalah dengan mendoakan orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummu Darda' radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ? bersabda: “Doa seorang muslim untuk saudaranya dengan tanpa sepengetahuan saudaranya itu pasti dikabulkan (mustajabah). Di sisi kepalanya ada seorang malaikat yang dikirim mendampinginya. Setiap kali orang itu mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang mendampinginya itu akan berkata: ‘Aamiin, dan untukmu hal yang serupa.’” Secara jurnalistik-spiritual, ini adalah sebuah "pertukaran" yang luar biasa. Saat kita memohonkan kelapangan rezeki, kesehatan, atau jodoh bagi saudara sesama Muslim, pada saat yang sama, mahluk paling dekat dengan Allah mengaminkan dan meminta hal yang sama untuk kita. Implementasi Nyata melalui Zakat dan Sedekah BAZNAS Kabupaten Majalengka mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mempraktikkan konsep ini dalam kehidupan sehari-hari. Berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan sarana untuk saling mendoakan. Saat kita membantu muzaki atau mereka yang membutuhkan, doa-doa tulus yang kita panjatkan untuk keberkahan hidup mereka akan memicu "reaksi berantai" dari para malaikat untuk mendoakan kebaikan kita kembali. "Mengapa kita harus mencari jalan yang tidak relevan, bahkan berisiko syirik, jika syariat telah memberikan jalan yang begitu indah? Mari kita raih keberkahan dengan cara mendoakan kebaikan bagi sesama, karena di situlah rahasia terkabulnya doa kita sendiri berada," tulis pesan dakwah ini. Daripada terjebak dalam spekulasi gaib yang menyesatkan, marilah kita bersujud menghadap Rabb, lalu mendoakan saudara-saudara kita. Biarkan para malaikat menjadi saksi dan pendukung utama atas segala hajat dan impian kita. Editor: Tim Media BAZNAS Majalengka Taggar: #BAZNASMajalengka #ZakatMensejahterakan #DakwahIslam #KeutamaanDoa #TawasulSyari #MalaikatMendoakan #MajalengkaLangkungSae #SpiritIbadah
BERITA12/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
Bahaya Virus Kesombongan dalam Komunikasi: Penghambat Keberkahan dan Relasi Sosial
Bahaya Virus Kesombongan dalam Komunikasi: Penghambat Keberkahan dan Relasi Sosial
MAJALENGKA – Manusia, dalam fitrahnya sebagai makhluk sosial, mustahil dapat menjalani kehidupan tanpa dukungan orang lain. Di balik setiap kesuksesan seorang pengusaha, pendidik, hingga politisi, terdapat jalinan komunikasi yang sehat dan efektif. Namun, di tengah upaya membangun relasi tersebut, terdapat satu "virus ganas" yang sering kali menjadi penyebab utama kegagalan interaksi manusia: Sifat Sombong. Sombong sebagai Penghambat Komunikasi Multi-Dimensi Kesombongan bukan sekadar sikap mental, melainkan penyakit hati yang merusak struktur komunikasi manusia secara vertikal maupun horizontal. Dalam perspektif komunikasi profetik (kenabian), kesombongan memutus dua koneksi utama: Hubungan Vertikal (Hablum Minallah): Sifat sombong menjadi tirai penghalang masuknya kebenaran Ilahi. Seseorang yang merasa "lebih" sulit untuk tunduk pada sumber kebenaran hakiki, yakni Allah SWT. Hubungan Horizontal (Hablum Minannas): Secara sosial, individu yang terjangkit virus ini akan sulit menemukan titik koneksi dengan sesama. Mereka cenderung meremehkan orang lain, sehingga kehilangan empati, rasa hormat, dan apresiasi yang merupakan pilar utama komunikasi yang efektif. Definisi Sombong dalam Tuntunan Rasulullah SAW Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memberikan peringatan keras mengenai bahaya al-kibr (keangkuhan) melalui sabdanya: "Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada penyakit al-kibr (keangkuhan/sombong)." (HR. Muslim, no. 2749). Lebih lanjut, beliau mendefinisikan sombong secara gamblang: "Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim no. 91). Dua indikator inilah—menolak kebenaran dan meremehkan sesama—yang menjadi penghancur pesan dalam setiap proses komunikasi. Belajar dari Kelembutan Hati Sahabat Sejarah mencatat bahwa pesan wahyu yang dibawa Rasulullah SAW paling cepat diterima oleh mereka yang memiliki hati yang bersih dari kesombongan, seperti kaum dhuafa dan para budak. Namun, kualitas keimanan yang paling luar biasa ditunjukkan oleh sosok Abu Bakar As-Siddiq. Meskipun ia berasal dari kalangan bangsawan Quraisy yang terhormat, Abu Bakar tidak memiliki setitik pun rasa angkuh. Ketulusan hatinya membuat pesan-pesan wahyu terkoneksi secara instan tanpa hambatan ego. Hal ini membuktikan bahwa kesuksesan komunikasi dakwah sangat bergantung pada kerendahan hati penerimanya. Strategi Komunikasi Bebas "Virus" Sombong Bagi seorang komunikator—termasuk para penggiat zakat dan relawan kemanusiaan—membangun daya tarik melalui apresiasi kepada lawan bicara adalah kunci. Komunikasi akan menuai kegagalan jika disampaikan dengan nada tinggi atau sikap merendahkan. Untuk meraih kesuksesan dalam setiap interaksi, beberapa langkah yang dapat diambil antara lain: Membangun Koneksi Vertikal: Berdoa dan memohon petunjuk Allah SWT sebelum memulai penyampaian pesan. Apresiasi Sejak Awal: Memberikan penghargaan dan penghormatan kepada komunikan (penerima pesan). Pemilihan Narasi yang Tepat: Menggunakan diksi yang santun dan mencari momentum waktu yang pas. Penutup Kesombongan adalah musuh nyata bagi keberhasilan hubungan antarmanusia. Dengan membersihkan hati dari rasa angkuh, kita tidak hanya membuka pintu kesuksesan di dunia melalui komunikasi yang efektif, tetapi juga mengamankan jalan menuju jannah-Nya di akhirat kelak. Wallahu a’lam Bisshawab. Taggar: #BAZNASMajalengka #ZakatMajalengka #KajianIslam #KomunikasiEfektif #BahayaSombong #EtikaMuslim #MajalengkaLangkungSae #ZakatMensejahterakanUmat
BERITA12/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
Mengelola Khilafiyah dengan Adab: Kunci Merajut Ukhuwah di Tengah Perbedaan
Mengelola Khilafiyah dengan Adab: Kunci Merajut Ukhuwah di Tengah Perbedaan
MAJALENGKA, BAZNAS Perbedaan pendapat dalam masalah khilafiyah furu’iyah (cabang agama) merupakan realitas sejarah yang tak terelakkan dalam perjalanan umat Islam. Namun, di era keterbukaan informasi saat ini, perbedaan tersebut kerap kali menjadi pemicu konflik yang meretakkan persatuan. Menanggapi fenomena ini, penguatan aspek adab di atas sekadar argumen menjadi krusial untuk menjaga harmoni sosial demi mewujudkan masyarakat yang lebih baik. Khilafiyah Furu’iyah: Persoalan Klasik, Bukan Pemicu Vonis Secara historis, para ulama salaf telah bersepakat bahwa perbedaan dalam ranah furu’iyah tidak mengeluarkan seseorang dari statusnya sebagai Muslim. Seseorang tidak menjadi kafir hanya karena berbeda pandangan mengenai tata cara ibadah yang bersifat cabang. Hak-haknya sebagai Muslim tetap harus dihormati, dilindungi, dan dijaga kehormatannya. Pemisahan yang tegas antara masalah furu’iyah dan ushuliyah (pokok akidah) sangatlah penting. Vonis kufur hanya relevan jika terjadi penyimpangan dalam hal fundamental, seperti pengingkaran terhadap keesaan Allah SWT atau status Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir. Urgensi Adab Sebelum Ilmu Mengutip catatan dalam Siyaru A’lamin Nubala’, sebuah kisah dari Imam Malik memberikan pelajaran berharga. Ketika beliau ditanya mengenai suatu kewajiban, beliau merujuk pada pendapat Zaid bin Tsabit. Saat penanya membandingkannya dengan pendapat Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas’ud, Imam Malik menekankan pentingnya menghormati tradisi keilmuan setempat guna menghindari gesekan. "Jika engkau berada di tengah-tengah suatu kaum, maka jangan engkau mengawali untuk mereka dengan sesuatu yang tidak mereka kenal, sehingga mereka pun mengawali untukmu dengan sesuatu yang tidak engkau senangi." (Imam Malik) Pesan ini menggarisbawahi bahwa kecerdasan intelektual tanpa disertai kearifan sosial (adab) hanya akan melahirkan debat kusir yang destruktif. Dialog yang seharusnya mencerahkan justru bisa bergeser menjadi arena ghibah dan penghujatan jika etika dikesampingkan. Belajar dari Kearifan Ulama Salaf Sejarah mencatat betapa ketatnya para ulama terdahulu dalam menanamkan adab. Abdurrahman bin al-Qasim, murid Imam Malik, menghabiskan 18 tahun dari 20 tahun masa belajarnya khusus untuk mendalami adab. Hal ini membuktikan bahwa ilmu tanpa adab laksana pohon tanpa buah; ia ada, namun tidak memberi manfaat bagi keteduhan umat. BAZNAS Kabupaten Majalengka memandang bahwa semangat moderasi dan saling menghormati adalah modal sosial utama. Dalam semangat Majalengka Langkung Sae, persatuan umat adalah pondasi utama agar pengelolaan zakat, infak, dan sedekah dapat berjalan maksimal tanpa terhambat oleh ego kelompok atau perbedaan paham. Menuju Perbedaan yang Menjadi Rahmat Menutup refleksi ini, perkataan Raja’ bin Haywah menjadi pengingat yang indah: "Betapa indahnya Islam yang dihiasi iman, iman yang dihiasi taqwa, taqwa yang dihiasi ilmu, ilmu yang dihiasi kesantunan, dan kesantunan yang dihiasi kelemahlembutan." Jika kelemahlembutan hilang, maka runtuhlah bangunan kesantunan dan ilmu pun menjadi tidak berguna. Dalam konteks kemasyarakatan di Majalengka, mengedepankan adab dalam setiap perbedaan adalah jalan keselamatan. Dengan adab, perbedaan tidak lagi menjadi azab, melainkan rahmat yang membimbing kita menuju kemajuan yang berkelanjutan. Editor: Humas BAZNAS Majalengka Sumber: Kajian Literatur Klasik Islam #BAZNASMajalengka #ZakatTumbuhBermanfaat #MajalengkaLangkungSae #AdabSebelumIlmu #UkhuwahIslamiyah #ModerasiBeragama #Khilafiyah #FiqihSosial #MajalengkaBeradab
BERITA12/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
Pernikahan sebagai Mitsaqan Ghalizha: Komitmen Suci Membangun Keluarga Sakinah
Pernikahan sebagai Mitsaqan Ghalizha: Komitmen Suci Membangun Keluarga Sakinah
MAJALENGKA (BAZNAS) – Di dalam syariat Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan emosional atau pertemuan dua insan dalam sebuah seremonial. Lebih jauh dari itu, Al-Qur'an menyebut akad nikah sebagai Mitsaqan Ghalizha, sebuah perjanjian yang berat dan kokoh. Istilah ini menyejajarkan kesucian ikatan pernikahan dengan perjanjian para Nabi kepada Allah SWT serta sumpah setia Bani Israil di bawah bukit Thursina. Landasan Spiritual Keberpasangan Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini secara berpasangan. Sebagaimana termaktub dalam QS. Yasin (36): 36, prinsip keberpasangan ini merupakan tanda kebesaran-Nya yang menciptakan keseimbangan hidup. Dalam konteks manusia, pernikahan dihadirkan agar setiap individu memperoleh ketenteraman (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Melalui akad nikah, terjadi transformasi besar yang sakral: yang haram menjadi halal, maksiat menjadi ibadah, dan kebebasan individual berubah menjadi tanggung jawab kolektif di hadapan Sang Pencipta. Peran Strategis dalam Keluarga Dalam membangun fondasi keluarga yang kuat, Islam memberikan panduan peran yang berkeadilan: Suami sebagai Qowwam (Pemimpin): Suami memikul amanah untuk menjadi pelindung dan pemimpin yang adil. Kepemimpinan dalam rumah tangga bukanlah otoritarianisme, melainkan pelayanan. Meneladani Rasulullah SAW, seorang suami yang mulia adalah mereka yang paling lembut dan baik terhadap keluarganya. Istri sebagai Rabbatul Bait (Ratu Rumah Tangga): Istri adalah pilar ketenangan dalam rumah tangga. Ketaatan istri kepada suami merupakan kunci keharmonisan yang mampu mengubah rumah menjadi surga sebelum surga yang sesungguhnya (Baiti Jannati). Keluarga sebagai Madrasah Kebajikan BAZNAS Kabupaten Majalengka memandang bahwa keluarga adalah unit terkecil masyarakat yang menjadi fondasi kekuatan umat. Keharmonisan rumah tangga berkorelasi positif dengan kesejahteraan sosial dan spiritual. Ketahanan keluarga yang dibangun di atas nilai-nilai takwa akan melahirkan generasi yang saleh dan mandiri, yang pada akhirnya akan memperkuat struktur tatanan sosial di Kabupaten Majalengka. Perjanjian Mitsaqan Ghalizha menuntut kedua belah pihak untuk saling menutup aib, saling menguatkan dalam keimanan, serta setia dalam suka maupun duka. Jika ikatan ini dikelola dengan baik berdasarkan syariat, maka keluarga tersebut tidak hanya akan bahagia di dunia, namun Allah SWT menjanjikan reuni akbar bagi mereka di surga 'Adn kelak. Penutup Menempuh bahtera kehidupan baru memerlukan bekal takwa sebagai kemudi utama. Semoga setiap pasangan mampu menjaga amanah suci ini, menjadikan rumah tangga sebagai ladang amal ibadah, dan bersama-sama melangkah menuju ridha Allah SWT. Selamat menempuh hidup baru bagi para pejuang keluarga. Semoga Allah senantiasa memberkahi setiap langkah menuju pulau kebahagiaan yang hakiki. #BAZNAS #BAZNASMajalengka #MajalengkaLangkungSae #KeluargaSakinah #MitsaqanGhalizha #EdukasiIslam #PernikahanIslami #ZakatTumbuhBermanfaat
BERITA12/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
Muhasabah dan Urgensi Persiapan Amal Menuju Hari Esok dalam Tinjauan Surah Al-Hasyr: 18
Muhasabah dan Urgensi Persiapan Amal Menuju Hari Esok dalam Tinjauan Surah Al-Hasyr: 18
MAJALENGKA, BAZNAS – Dalam mengarungi kehidupan dunia yang fana, seorang mukmin dituntut untuk memiliki visi yang melampaui batas cakrawala materialistik. Al-Qur'an melalui Surah Al-Hasyr ayat 18 memberikan panduan strategis mengenai pentingnya pengelolaan diri, ketakwaan, dan evaluasi amal sebagai bekal perjalanan menuju akhirat. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Ayat ini mengandung kedalaman makna yang menjadi fondasi bagi setiap Muslim dalam beramal, termasuk dalam menunaikan kewajiban Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) demi mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih baik. Berikut adalah beberapa faidah fundamental yang terkandung di dalamnya: 1. Repetisi Perintah Takwa: Sebuah Peringatan Mutlak Allah SWT mengulang perintah takwa sebanyak dua kali dalam satu ayat yang sama. Dalam kaidah ilmu tafsir, pengulangan ini menunjukkan urgensi yang sangat tinggi. Takwa bukanlah sekadar identitas, melainkan komitmen yang harus hadir dalam setiap helai napas—baik dalam kondisi ramai maupun sepi. 2. Konsep Nadhor: Bukan Sekadar Melihat, Tapi Memerhatikan Ayat ini menggunakan kata Faltandhur (hendaklah memerhatikan). Secara etimologis, Nadhor berarti memperhatikan dengan seksama, detail, dan penuh ketelitian. Dalam konteks pengelolaan dana umat di BAZNAS, hal ini mencerminkan pentingnya aspek akuntabilitas dan ketepatan sasaran dalam penyaluran bantuan. 3. Esensi Muhasabah (Evaluasi Diri) Umar bin Khaththab RA pernah berpesan, “Hasibu anfusakum qobla an-tuhaasabu” (Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab). Ayat ini adalah dalil utama perintah muhasabah. Seorang muzaki maupun munfik hendaknya mengevaluasi harta dan amalannya, memastikan bahwa kontribusi sosial yang diberikan benar-benar murni demi mengharap rida Illahi. 4. Akhirat sebagai "Hari Esok" yang Dekat Penggunaan diksi Ghad (Besok) untuk menggambarkan hari kiamat menunjukkan betapa dekatnya fase tersebut. Dengan menganggap akhirat sebagai "besok", seorang mukmin akan lebih terpacu untuk bersungguh-sungguh dalam beramal dan memberikan kemaslahatan bagi sesama tanpa menunda-nunda. 5. Landasan Keilmuan dalam Beramal Perintah memperhatikan amal secara otomatis merupakan perintah untuk menuntut ilmu. Literasi mengenai zakat dan tata cara ibadah lainnya menjadi kewajiban agar setiap langkah pengabdian kita berjalan di atas rel syariat yang benar. Kesimpulan Surah Al-Hasyr ayat 18 adalah seruan bagi kita semua untuk berhenti sejenak dan bertanya: "Bekal apa yang sudah saya siapkan untuk hari esok?" Sejalan dengan semangat pembenahan diri dan peningkatan kualitas di berbagai lini, BAZNAS Kabupaten Majalengka mengajak seluruh masyarakat untuk terus berbenah dan mengoptimalkan zakat serta sedekah sebagai investasi abadi menuju masa depan yang lebih mulia. #BAZNASMajalengka #Muhasabah #ZakatMensejahterakan #AlHasyr18 #Taqwa #AmalSholeh #IslamRahmatanLilAlamin #MajalengkaLangkungSae
BERITA12/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
Saring Sebelum Sharing: Etika Menyebar Informasi dalam Perspektif Hadits
Saring Sebelum Sharing: Etika Menyebar Informasi dalam Perspektif Hadits
MAJALENGKA Di era keterbukaan informasi saat ini, kecepatan berita seringkali mengalahkan keakuratan. Media massa, media sosial, hingga percakapan sehari-hari dipenuhi dengan berbagai kabar yang belum tentu kebenarannya. Menanggapi fenomena ini, BAZNAS Kabupaten Majalengka mengajak seluruh masyarakat, khususnya para muzaki dan mustahik, untuk lebih selektif dan berhati-hati dalam menyebarkan informasi atau "kabar burung." Menyebarkan setiap hal yang kita dengar tanpa verifikasi bukan hanya berisiko menimbulkan fitnah, tetapi juga merupakan bentuk kedustaan sebagaimana diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Landasan Syariat dalam Berita Diriwayatkan dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: $$ ext{????? ??????????? ??????? ???? ????????? ??????? ??? ??????}$$ "Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar." (HR. Muslim no. 5) Pelajaran dari Imam Nawawi Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim memberikan penjelasan mendalam mengenai hadits ini. Beliau menegaskan bahwa seseorang bisa dikatakan berdusta karena berita yang didengar sering kali dibumbui atau ditambah-tambah. Secara esensial, dusta didefinisikan sebagai memberitakan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Meskipun seseorang tidak berniat berbohong, menceritakan berita yang tidak valid secara otomatis menjerumuskannya pada kedustaan. Jika dilakukan dengan sengaja, maka hal tersebut menjadi dosa yang nyata. Pesan BAZNAS Majalengka Ketua BAZNAS Kabupaten Majalengka menyampaikan bahwa prinsip tabayyun (verifikasi) sangat penting, terutama menyangkut informasi pengelolaan zakat, infak, dan sedekah. "Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh berita yang belum jelas sumbernya. Pastikan setiap informasi, baik itu program bantuan maupun laporan keuangan, berasal dari saluran resmi BAZNAS Majalengka agar terjaga amanah dan ukhuwah di antara kita," ujarnya. Marilah kita jadikan lisan dan jari kita sebagai sarana penyebar kebaikan, bukan menjadi corong berita yang tidak jelas muaranya. Ingatlah, menjadi bijak dalam berbagi berita adalah bagian dari takwa. Tag: #BAZNASMajalengka #ZakatPemberdayaan #EtikaInformasi #SaringSebelumSharing #Tabayyun #HaditsHarian #MajalengkaLangkungSae #ZakatAmanah
BERITA11/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I.
Pererat Silaturahmi, BAZNAS Majalengka Tekankan Solidaritas demi Capai Target Langkung Sae
Pererat Silaturahmi, BAZNAS Majalengka Tekankan Solidaritas demi Capai Target Langkung Sae
MAJALENGKA Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Majalengka terus berupaya meningkatkan kualitas tata kelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Dalam pertemuan terbaru bersama seluruh jajaran staf, Wakil Ketua 1 BAZNAS Kabupaten Majalengka, Humed, M.Pd., memberikan arahan strategis mengenai pentingnya menjaga harmoni internal organisasi. Beliau mengajak seluruh amilin (pengelola zakat) untuk tetap menjaga dan menguatkan tali silaturahmi serta kebersamaan. Menurutnya, pondasi utama untuk mewujudkan BAZNAS Majalengka yang "Langkung Sae" (Lebih Baik) adalah soliditas tim yang tidak tergoyahkan. "Kesuksesan BAZNAS Majalengka dalam berbagai program, mulai dari penyaluran bantuan hingga pemberdayaan ekonomi umat, bukanlah hasil kerja individu. Ini adalah kesuksesan bersama yang lahir dari sinergi seluruh lini," tegas Humed. Strategi Mempertahankan Prestasi dan Kemajuan Lembaga Mempertahankan prestasi seringkali lebih sulit daripada meraihnya. Untuk memastikan BAZNAS Majalengka tetap berada di jalur kemajuan, Humed membagikan beberapa kiat utama bagi lembaga: Inovasi Berkelanjutan: Jangan cepat puas dengan sistem yang ada. Lembaga harus adaptif terhadap teknologi digital untuk memudahkan muzaki dalam menunaikan zakat. Transparansi dan Akuntabilitas: Menjaga kepercayaan publik melalui pelaporan keuangan yang auditabel dan publikasi program secara berkala. Peningkatan Kompetensi Amilin: Rutin melakukan pelatihan dan sertifikasi agar amilin memiliki keahlian yang relevan dengan perkembangan zaman. Optimalisasi Pendayagunaan: Memastikan setiap rupiah yang disalurkan memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi para mustahik. Solusi Penguatan Kerja Sama dan Silaturahmi Antar Amilin Guna menghindari kejenuhan dan menjaga ritme kerja yang harmonis, Humed menekankan pentingnya aspek psikologi organisasi melalui beberapa langkah taktis: Komunikasi Dua Arah: Menciptakan ruang diskusi yang terbuka di mana setiap amilin bisa menyampaikan ide maupun kendala tanpa rasa sungkan. Kegiatan "Internal Bonding": Menyelenggarakan kegiatan informal seperti makan bersama atau kajian rutin untuk mencairkan suasana di luar urusan pekerjaan. Budaya Saling Apresiasi: Memberikan penghargaan kecil (recognition) atas pencapaian rekan kerja demi memupuk semangat saling mendukung, bukan saling menjatuhkan. Mitigasi Konflik Sejak Dini: Menyelesaikan setiap perbedaan pendapat melalui musyawarah kekeluargaan dengan mengutamakan kepentingan lembaga di atas ego pribadi. Dengan semangat kebersamaan ini, BAZNAS Kabupaten Majalengka optimis dapat terus memberikan kemaslahatan yang lebih luas bagi masyarakat Majalengka, sejalan dengan visi menjadi lembaga pengelola zakat yang amanah, transparan, dan profesional. #BAZNASMajalengka #LangkungSae #ZakatMensejahterakanUmat #SilaturahmiAmilin #MajalengkaReligius #AmilZakatProfesional
BERITA11/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
Wujudkan Majalengka Langkung Sae, Kemenhaj dan BAZNAS Sinergikan Tata Kelola Dam untuk Kesejahteraan Umat
Wujudkan Majalengka Langkung Sae, Kemenhaj dan BAZNAS Sinergikan Tata Kelola Dam untuk Kesejahteraan Umat
JAKARTA Upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan dan berorientasi pada kesejahteraan umat terus diperkuat. Hal ini sejalan dengan semangat Majalengka Langkung Sae, di mana transparansi pengelolaan dana sosial dari tingkat pusat hingga ke daerah menjadi kunci utama. Terbaru, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) secara resmi memberikan dukungan penuh kepada BAZNAS dalam memfasilitasi tata kelola dam bagi jemaah haji Indonesia. Dukungan tersebut mengemuka dalam audiensi antara BAZNAS RI dan Kemenhaj di Gedung Kemenhaj, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid, Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, serta jajaran pimpinan BAZNAS RI lainnya. Transparansi Pusat untuk Dampak Daerah Ketua BAZNAS RI, Sodik Mudjahid, menekankan bahwa pengelolaan dam melalui BAZNAS mengedepankan akuntabilitas yang tinggi. Jemaah akan mendapatkan transparansi penuh, mulai dari konfirmasi pembayaran, bukti pemotongan hewan, hingga laporan penyaluran. Semangat transparansi ini merupakan bagian integral dari upaya kolektif pemerintah untuk memastikan dana sosial dikelola secara profesional. Dampaknya tidak hanya terasa di tanah suci, tetapi juga menjangkau peternak UMKM di berbagai daerah, termasuk di wilayah Jawa Barat, sebagai bagian dari penguatan ekonomi kerakyatan yang selaras dengan visi pembangunan daerah yang lebih baik. Kolaborasi Inklusif Demi Kemaslahatan “Tata kelola dam oleh BAZNAS bukan sekadar pemenuhan kewajiban ibadah, tetapi memiliki dimensi sosial-ekonomi yang besar. Kami melibatkan peternak binaan di berbagai pelosok untuk penyaluran manfaatnya,” ujar Sodik. Dalam pertemuan tersebut, Kemenhaj juga menekankan pentingnya kolaborasi inklusif yang melibatkan berbagai pihak seperti LAZ dan KBIH. Namun, bagi jemaah yang ibadah hajinya dikelola oleh lembaga pemerintah, sangat disarankan untuk menyalurkan dam melalui BAZNAS sebagai lembaga resmi negara. Menuju Tata Kelola yang Lebih Baik Sinergi ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang lebih terukur. Dengan tata kelola yang tertib dari pusat hingga ke daerah, cita-cita untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata—sebagaimana semangat Majalengka Langkung Sae—dapat terwujud melalui sistem yang lebih transparan, amanah, dan profesional.
BERITA11/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I.
Digitalisasi dan Etika: Membangun Ekosistem Ekonomi Syariah yang Transparan di Era Transformasi Teknologi
Digitalisasi dan Etika: Membangun Ekosistem Ekonomi Syariah yang Transparan di Era Transformasi Teknologi
MAJALENGKA – Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah ekonomi global secara fundamental. Fenomena algoritma media sosial yang mampu memetakan kebutuhan pengguna hingga efisiensi e-commerce yang memangkas jarak antara penjual dan pembeli adalah bukti nyata bahwa inovasi digital telah menjadi denyut nadi kehidupan modern. Namun, di tengah kemudahan tersebut, penguatan nilai-nilai etika dan prinsip syariah menjadi instrumen krusial dalam menjaga keadilan ekonomi bagi masyarakat. Dalam perspektif filsafat ilmu, hubungan antara ilmu pengetahuan dan teknologi bersifat simbiosis mutualisme. Ilmu pengetahuan menjadi landasan lahirnya inovasi, sementara teknologi mempercepat akses terhadap informasi. Namun, transformasi ini menyisakan tantangan besar terkait aspek kejujuran dan transparansi. Mengikis Gharar dalam Transaksi Digital Salah satu isu sentral dalam aktivitas ekonomi digital adalah risiko munculnya Gharar—unsur ketidakjelasan atau manipulasi informasi yang dilarang dalam syariat Islam. Praktik ketidaksesuaian antara foto produk dengan realita fisik barang merupakan bentuk degradasi etika bisnis yang mencederai kepercayaan konsumen. Ekonomi Islam menekankan bahwa teknologi seharusnya berfungsi sebagai instrumen untuk menghilangkan ketidakpastian, bukan justru menjadi alat untuk membungkus kebohongan. Penjual yang memegang teguh prinsip syariah akan mengedepankan keterbukaan informasi dalam deskripsi produk, memastikan hak-hak pembeli terpenuhi tanpa ada yang terzalimi. Peran Perbankan sebagai Jembatan Amanah Dalam ekosistem digital, institusi perbankan memegang peran vital sebagai jembatan wewenang yang transparan. Perbankan syariah, khususnya, dituntut tidak sekadar mengelola lalu lintas dana, tetapi menjadi penyedia layanan yang menjamin keamanan harta nasabah dari praktik penipuan digital seperti phishing atau aplikasi ilegal. Teknologi perbankan harus dioptimalkan untuk menciptakan sistem deteksi dini yang melindungi nasabah. Prinsip saling percaya (trust) harus tetap menjadi pondasi utama, meskipun transaksi dilakukan tanpa tatap muka secara fisik. Dengan sistem yang kuat, keadilan bagi pembeli dan hak bagi penjual dapat terjamin secara beriringan. Inovasi untuk Kesejahteraan Umat Kemajuan bisnis tidak boleh hanya diukur melalui angka keuntungan semata, melainkan melalui dampak sosial yang dihasilkan. Inovasi yang mengeksploitasi pelaku usaha mikro atau mengabaikan kesejahteraan pekerja lapangan bertentangan dengan semangat ekonomi Islam. Bisnis yang berlandaskan syariah memastikan bahwa kesejahteraan harus berputar secara adil di seluruh lapisan masyarakat, selaras dengan semangat Majalengka Langkung Sae. Pengelolaan dana sosial yang transparan dari tingkat pusat hingga daerah merupakan bagian integral dari tata kelola yang baik untuk mewujudkan kemaslahatan umat. Kesimpulan: Teknologi Bermata Dua Teknologi adalah instrumen yang bergantung pada pemakainya. Ia dapat membawa keberkahan jika dibarengi dengan nilai moral, namun bisa menjadi bencana jika dilepaskan dari etika. Ekonomi dan bisnis Islam menawarkan solusi relevan: maju mengikuti zaman dengan tetap mempertahankan ketulusan niat dan kejujuran. Di tengah persaingan digital yang semakin kompetitif, bisnis yang memiliki "hati" dan integritas akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Sukses bisnis yang sesungguhnya bukan sekadar mutasi rekening yang meningkat, melainkan ketenangan hati karena mengetahui setiap transaksi dijalankan dengan cara yang benar dan bernilai ibadah. Mari jadikan teknologi dan layanan keuangan sebagai jalan untuk menebar manfaat, memastikan kemajuan digital berjalan selaras dengan rasa kemanusiaan dan keadilan.#BAZNASMajalengka #MajalengkaLangkungSae #KabupatenMajalengka #ZakatPemberdayaan #PilihanPertamaPembayarZakat #LembagaUtamaMenyejahterakanUmat #LiterasiZakat #AmanahDanTransparan #ZakatDigital #MembangunUmat #EkonomiUmat #TeknologiUntukKebaikan #BerkahBerzakat #KeadilanEkonomi
BERITA11/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I.
Menjemput Ridha Allah: Mengulas Urgensi Ikhlas dalam Ibadah dan Muamalah
Menjemput Ridha Allah: Mengulas Urgensi Ikhlas dalam Ibadah dan Muamalah
MAJALENGKA, BAZNAS Ikhlas merupakan fondasi utama dalam setiap helaan napas seorang muslim. Kata yang singkat namun memiliki bobot luar biasa ini menjadi penentu apakah amal seorang hamba diterima di sisi Allah SWT atau justru menjadi sia-sia. Dalam menjalankan syariat, keikhlasan bukan sekadar pelengkap, melainkan syarat mutlak. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an: “Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 2). Dua Syarat Diterimanya Amal BAZNAS Kabupaten Majalengka senantiasa menekankan bahwa dalam berzakat, berinfak, maupun bersedekah, niat adalah kunci. Mengutip perkataan Ibnu Mas’ud RA, suatu amal tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat yang ikhlas dan tata cara yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa keikhlasan, amalan sebesar gunung sekalipun bisa sirna tanpa pahala. Ikhlas: Bukan Hanya dalam Ritual Ibadah Seringkali masyarakat memahami ikhlas hanya terbatas pada salat, puasa, atau zakat. Namun, makna ikhlas jauh lebih luas, mencakup aspek muamalah (hubungan antarmanusia). Dalam Keluarga: Memberi nafkah atau sekadar menyuapkan makanan ke mulut istri dengan mengharap wajah Allah akan bernilai pahala besar. Dalam Sosial: Tersenyum kepada sesama, meminjamkan barang kepada tetangga yang membutuhkan, hingga mengunjungi saudara, semua harus didasari niat karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau takut dicela manusia. Keajaiban Amal Kecil yang Ikhlas Abdullah bin Mubarak pernah berpesan: "Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niat, dan amalan besar menjadi kecil karena niat." Sejarah mencatat bagaimana seorang pria masuk surga hanya karena menyingkirkan dahan pohon di jalan agar tidak mengganggu orang lain. Begitu pula kisah seorang wanita yang diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Hal ini membuktikan bahwa Allah tidak hanya melihat kuantitas, melainkan kualitas ketulusan hati pelakunya. Buah Manis Keikhlasan Selain mendapatkan pahala di akhirat, ikhlas memberikan perlindungan nyata di dunia: Benteng dari Godaan Setan: Allah menegaskan dalam QS. Shad ayat 82-83 bahwa setan tidak akan mampu menyesatkan hamba-hamba-Nya yang mukhlis (ikhlas). Penjaga dari Maksiat: Sebagaimana Nabi Yusuf AS yang dijaga dari perbuatan keji karena keikhlasannya, kita pun dapat terhindar dari kemaksiatan jika hati senantiasa terpaut hanya kepada Allah. Penutup Mari kita jadikan momentum ini untuk mengintrospeksi diri. Apakah zakat dan sedekah yang kita keluarkan sudah murni karena Allah? Ataukah masih terselip keinginan untuk dilihat (riya') dan didengar (sum'ah) oleh manusia? Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita, menerima setiap amal jariyah kita, dan menjadikan kita termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Amin ya Rabbal ‘alamin. Tanda Pagar (Hashtags): #BAZNASMajalengka #PilihanPastiZakat #IkhlasBeramal #Tauhid #ZakatPembersihHarta #MutiaraHikmah #MajalengkaReligius #KeutamaanIkhlas #ZakatNasional
BERITA11/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I.
Empat Pilar Adab: Kunci Kesalehan Sosial dalam Perspektif Hadits Nabi
Empat Pilar Adab: Kunci Kesalehan Sosial dalam Perspektif Hadits Nabi
MAJALENGKA, BAZNAS – Membangun karakter bangsa yang luhur dimulai dari perbaikan adab individu. Sebagai lembaga yang bergerak di bidang pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS Kabupaten Majalengka tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan materi, tetapi juga berkomitmen dalam mengedukasi masyarakat mengenai nilai-nilai spiritual dan akhlakul karimah. Imam Abu ‘Amr Ibnu Shalah dalam kitabnya menukil perkataan Imam Abu Muhammad Ibn Abi Zaid, seorang ulama besar mazhab Maliki. Beliau menegaskan bahwa inti serta kunci dari seluruh adab yang baik terangkum dalam empat hadits utama Rasulullah $SAW$. Berikut adalah empat pedoman hidup yang menjadi landasan dalam berinteraksi sosial dan beribadah: 1. Menjaga Lisan (Self-Control) Rasulullah $SAW$ bersabda: "Barangsiapa yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari & Muslim) Lisan adalah cerminan hati. Dalam konteks kemanusiaan, menjaga tutur kata sangat penting untuk menjaga harmoni dan menghindari fitnah di tengah masyarakat. 2. Meninggalkan Hal yang Sia-sia (Productivity) Rasulullah $SAW$ bersabda: "Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat." (HR. Tirmidzi) Hadits ini mengajarkan kita untuk fokus pada hal-hal produktif. BAZNAS senantiasa mengajak muzaki dan mustahik untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang memberikan maslahat, baik bagi diri sendiri maupun umat. 3. Mengelola Emosi (Emotional Intelligence) Ketika seorang sahabat meminta wasiat, Rasulullah $SAW$ menekankan: "Jangan marah." (HR. Bukhari) Pesan ini diulang hingga tiga kali, menunjukkan betapa pentingnya kesabaran. Menahan amarah adalah kunci dalam menyelesaikan konflik dan membangun kedamaian sosial. 4. Menumbuhkan Empati (Social Solidarity) Rasulullah $SAW$ bersabda: "Seorang mukmin itu menginginkan untuk saudaranya apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari & Muslim) Inilah ruh dari gerakan zakat. Rasa empati inilah yang menggerakkan kita untuk membantu sesama, memastikan bahwa saudara kita merasakan kesejahteraan yang sama seperti yang kita rasakan. Penutup Keempat hadits di atas bukan sekadar hafalan, melainkan pedoman untuk diamalkan dalam setiap aktivitas harian kita. Dengan meresapi maknanya, kita dapat mewujudkan masyarakat Majalengka yang religius, harmonis, dan penuh keberkahan. Mari terus tebar kebaikan melalui zakat, infak, dan sedekah untuk membantu sesama. BAZNAS Kabupaten Majalengka Pilihan Pertama Pembayar Zakat, Lembaga Utama Menyejahterakan Umat. #BAZNASMajalengka #AdabIslami #HaditsNabi #ZakatTumbuhBermanfaat #MajalengkaReligius #AkhlakulKarimah #MutiaraHikmah #AmalanHarian #ZakatProfesional
BERITA11/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I.
Sinergi Kemanusiaan: BAZNAS Majalengka Bersama Komunitas Pedagang Jatiwangi Salurkan Santunan bagi Lansia di Ciborelang
Sinergi Kemanusiaan: BAZNAS Majalengka Bersama Komunitas Pedagang Jatiwangi Salurkan Santunan bagi Lansia di Ciborelang
MAJALENGKA – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Majalengka terus memperkuat komitmennya dalam menjangkau mustahik hingga ke pelosok desa. Melalui kolaborasi strategis bersama Komunitas Pedagang Jatiwangi (KOPI), BAZNAS Majalengka menyelenggarakan aksi pendistribusian bantuan bagi warga lanjut usia (lansia) dan kaum jompo di Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, pada Sabtu (11/04/2026). Wujud Kepedulian Melalui Bantuan Tunai Kegiatan yang berlangsung khidmat ini berfokus pada pemberian bantuan dalam bentuk uang tunai. Keputusan untuk memberikan stimulan berupa dana tunai diambil agar para penerima manfaat memiliki fleksibilitas dalam memenuhi kebutuhan prioritas mereka, baik untuk pemenuhan gizi harian maupun akses layanan kesehatan. Perwakilan Komunitas Pedagang Jatiwangi (KOPI) menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bentuk bakti sosial para pedagang terhadap masyarakat sekitar. "Kami ingin memastikan bahwa kehadiran komunitas kami memberikan dampak nyata. Bantuan ini adalah wujud kasih sayang dan penghormatan kami kepada para orang tua dan lansia di wilayah Jatiwangi," ungkapnya. Kolaborasi Strategis untuk Ketepatan Sasaran Pihak BAZNAS Kabupaten Majalengka menyambut baik inisiatif dari komunitas lokal seperti KOPI. Sinergi ini dinilai menjadi kunci efektivitas dalam pemetaan dan penyaluran bantuan agar lebih cepat dan akurat (tepat sasaran). "Kolaborasi bersama komunitas pedagang seperti KOPI sangat membantu BAZNAS dalam menyisir titik-titik masyarakat yang benar-benar membutuhkan uluran tangan. Kami mengapresiasi semangat gotong royong ini sebagai pilar kekuatan ekonomi umat," ujar perwakilan BAZNAS Majalengka dalam keterangannya. Detail Penyaluran Bantuan: Unsur Kegiatan Deskripsi Penyelenggara BAZNAS Majalengka & Komunitas Pedagang Jatiwangi (KOPI) Lokasi Desa Ciborelang, Kec. Jatiwangi, Majalengka Kategori Mustahik Lansia dan Kaum Jompo Jenis Bantuan Santunan Tunai Melalui program ini, BAZNAS Majalengka berharap semangat kedermawanan terus tumbuh di tengah masyarakat dan menginspirasi berbagai sektor komunitas lainnya untuk berkolaborasi dalam menebar kebaikan. #BAZNASMajalengka #ZakatPemberdayaan #JatiwangiPeduli #Ciborelang #LansiaSejahtera #Kemanusiaan #InfoMajalengka #SinergiUmat #ZakatMensejahterakan #KOPIJatiwangi
BERITA11/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
Menjaga Hati dari Jerat Pujian: Meneladani Keikhlasan Para Salafus Shalih
Menjaga Hati dari Jerat Pujian: Meneladani Keikhlasan Para Salafus Shalih
MAJALENGKA, BAZNAS Dalam kehidupan bersosial, pujian seringkali datang sebagai bentuk apresiasi atas sebuah pencapaian atau kebaikan. Namun, bagi seorang mukmin, pujian ibarat pedang bermata dua; ia bisa menjadi motivasi, namun seringkali menjadi pintu masuknya penyakit hati seperti ujub (bangga diri) dan sombong. Penting bagi kita untuk memiliki "benteng" mental agar tetap rendah hati dan tidak merasa di atas angin saat sanjungan datang bertubi-tubi. Esensi Ikhlas: Tak Silau Pujian, Tak Ciut Celaan Para ulama terdahulu telah memberikan resep spiritual mengenai cara menyikapi penilaian manusia. Yahya bin Mu’adz pernah ditanya mengenai kapan seorang hamba mencapai derajat ikhlas. Beliau menjawab dengan analogi yang sangat menyentuh: "Jika keadaannya mirip dengan anak yang menyusui. Ia tidak lagi peduli apakah orang di sekitarnya memuji atau mencelanya." Senada dengan hal tersebut, Dzun Nuun Al Mishri menegaskan bahwa ciri keikhlasan adalah ketika seseorang telah mengerahkan seluruh upaya ketaatan namun hatinya sama sekali tidak "gila" akan pujian manusia. Keikhlasan sejati membuat orientasi amal hanya tertuju pada ridha Allah SWT, bukan pada pengakuan publik. Memandang Kekurangan Diri di Balik Sanjungan Seringkali kita merasa besar hati karena orang lain hanya melihat sisi lahiriah kita. Ibnu 'Atho' dalam kitab Al-Hikam mengingatkan bahwa manusia memuji berdasarkan apa yang nampak, sementara kita sendiri yang paling tahu betapa banyak kekurangan dan aib yang tersembunyi. Beliau menyebut bahwa orang yang paling bodoh adalah mereka yang lebih mempercayai pujian orang lain daripada keyakinan atas kekurangan dirinya sendiri. Bahkan sahabat mulia sekelas Ibnu Mas'ud pun tetap menjaga kerendahan hatinya dengan berkata: "Jika kalian mengetahui aibku, tentu tidak ada dua orang dari kalian yang akan mengikutiku." Panduan Praktis Menghadapi Pujian Agar tetap membumi, berikut adalah ringkasan kiat-kiat dari para ulama untuk menjaga hati: Keyakinan Tauhid: Sadari bahwa segala nikmat dan keberhasilan datangnya dari Allah SWT, bukan semata-mata usaha manusia. Introspeksi Diri: Lebih fokus melihat kekurangan diri daripada menghitung-hitung kelebihan. Keseimbangan Mental: Tidak terlalu bereaksi berlebihan terhadap pujian maupun celaan. Keduanya dipandang sebagai ujian. Konsistensi Beramal: Ada atau tidak adanya pujian, kualitas ibadah dan kinerja harus tetap sama. Orientasi Akhirat: Tidak mengharapkan pujian berkelanjutan, melainkan hanya mengharap pahala dari Allah semata. Mengamalkan Doa Abu Bakar Ash-Shiddiq Sebagai bentuk perlindungan hati, para ulama menyarankan untuk membaca doa yang sering dipanjatkan oleh sahabat Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq, saat beliau disanjung oleh orang lain: ?????????? ?????? ???????? ?????? ????????? ??????? ???????? ????????? ???????? ?????????? ?????????? ??????? ?????? ??????????? ????????? ??? ??? ??? ???????????? ????? ???????????? ????? ???????????? "Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan kata-kata mereka." (HR. Al-Baihaqi) Membaca doa ini bukan sekadar ritual, melainkan bentuk pengakuan bahwa kita adalah hamba yang fakir di hadapan Allah. Dengan menjaga hati dari sifat sombong, kita berharap setiap amal zakat, infak, dan sedekah yang kita tunaikan tetap bernilai murni hanya untuk-Nya. Editor: Admin BAZNAS Majalengka Sumber: Syu'ab Al-Iman, Al-Hikam, Adab Al-Mufrod #BAZNASMajalengka #Tausiyah #Ikhlas #RendahHati #AdabIslam #TazkiyatunNufus #MajalengkaLangkungSae
BERITA11/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
Refleksi Digital: Memposisikan Al-Qur'an di Tengah Dominasi Smartphone
Refleksi Digital: Memposisikan Al-Qur'an di Tengah Dominasi Smartphone
MAJALENGKA, BAZNAS – Di era disrupsi digital saat ini, smartphone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia. Mulai dari anak-anak hingga lansia, perangkat mungil ini hampir tidak pernah lepas dari genggaman. Fenomena sosial menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat menyentuh layar ponsel mereka setiap tiga puluh menit sekali hanya untuk sekadar memantau arus informasi atau berita. Namun, di balik kemudahan akses informasi tersebut, muncul sebuah pertanyaan mendasar bagi setiap Muslim: Sudahkah penggunaan teknologi ini selaras dengan skala prioritas ibadah kita? Kebutuhan Informasi vs Kebutuhan Spiritual Secara leksikal, berita mencakup segala keterangan mengenai peristiwa yang hangat. Kini, sumber berita tidak lagi terbatas pada jurnalis profesional, melainkan meluas hingga ke lingkaran media sosial seperti Facebook, Twitter (X), dan WhatsApp. Kecepatan arus informasi inilah yang sering kali membius pengguna untuk menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar. BAZNAS Kabupaten Majalengka mengajak masyarakat untuk kembali melakukan audit terhadap aktivitas harian. Sering kali terjadi paradoks di mana sepuluh menit mengakses media sosial terasa sangat singkat, namun sepuluh menit membaca mushaf Al-Qur'an terasa begitu lama. Begitu pula dengan antusiasme mencari klarifikasi isu politik yang jauh lebih tinggi dibandingkan mencari tafsir ayat-ayat Allah. Al-Qur'an sebagai Standar Kemuliaan Merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Allah sejatinya meninggikan derajat suatu kaum karena berpegang teguh terhadap Kitab ini (Al-Qur'an) dan merendahkan kaum lainnya karena menelantarkan Kitab ini.” Syaikh Muhammad Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah menekankan bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tiga tujuan utama: membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya. Kebutuhan manusia terhadap petunjuk Al-Qur'an sejatinya jauh lebih besar daripada kebutuhan terhadap udara, karena ia merupakan kunci keselamatan di dunia maupun di akhirat. Menempatkan Teknologi pada Porsinya Pemanfaatan smartphone tentu tidak dilarang. Secara fungsional, perangkat ini sangat bermanfaat sebagai alat bantu komunikasi bahkan sarana membaca Al-Qur'an digital. Namun, tantangan terbesarnya adalah beragam fitur hiburan yang berpotensi melalaikan. Sikap dan perbuatan seseorang mencerminkan apa yang paling ia cintai. Jika perhatian terhadap notifikasi smartphone jauh melampaui perhatian terhadap panggilan Allah, maka diperlukan evaluasi iman yang mendalam. Jangan sampai kecanggihan teknologi justru menjadi tabir yang menjauhkan kita dari kemuliaan Kalamullah. Mari jadikan momentum ini untuk menata kembali prioritas kita. Jadikan teknologi sebagai pelayan bagi ibadah kita, bukan sebaliknya. Pembahasan lebih mendalam mengenai keutamaan Al-Qur'an akan kami ulas pada artikel selanjutnya: "Antara Al-Qur'an dan Smartphone Bagian Ke-2". Editor: Tim Media BAZNAS Kabupaten Majalengka Sumber: Adaptasi Artikel Literasi Islam #BAZNASMajalengka #LiterasiIslam #AlQuranSelfie #ZakatMajalengka #RefleksiDiri #DakwahDigital #MajalengkaReligius
BERITA11/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
Mengapa Ghibah Disamakan dengan Memakan Bangkai Saudara? Menyelami Kedalaman Tafsir Surah Al-Hujurat Ayat 12
Mengapa Ghibah Disamakan dengan Memakan Bangkai Saudara? Menyelami Kedalaman Tafsir Surah Al-Hujurat Ayat 12
MAJALENGKA, BAZNAS Dalam interaksi sosial sehari-hari, sering kali kita terjebak dalam percakapan yang tanpa disadari mengikis pahala amalan: Ghibah. Islam dengan tegas melarang perbuatan ini, bahkan menggambarkannya dengan analogi yang sangat eksplisit dan menggetarkan jiwa. Allah 'Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 12: "Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik padanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." Rahasia di Balik Analogi "Memakan Bangkai" Mengapa Allah memilih perumpamaan yang begitu mengerikan? Imam Al-Qurthubi dalam karya monumentalnya, Tafsir Al-Qurthubi, membedah empat rahasia besar di balik permisalan ini: Pengoyakan Kehormatan: Sebagaimana seseorang yang memakan daging akan mengoyak daging dari kulitnya, ghibah pun mengoyak kehormatan seseorang. Luka pada harga diri sering kali lebih dalam dan sulit disembuhkan daripada luka fisik. Ikatan Persaudaraan yang Terkhianati: Allah menyebutkan "daging saudara", bukan daging hewan. Ini menunjukkan betapa hinanya mengkhianati ikatan persaudaraan iman hanya demi kepuasan lisan sesaat. Ketidakberdayaan Korban: Orang yang dighibahi disamakan dengan "mayit" (bangkai). Seorang mayit tidak mampu membela diri saat tubuhnya disakiti. Demikian pula orang yang sedang dibicarakan di belakangnya; ia tidak hadir untuk membela kehormatannya. Efek Jera (Preventif): Penggunaan analogi yang menjijikkan bertujuan agar setiap mukmin merasa mual dan benci terhadap perbuatan tersebut, sehingga mereka menjauhinya sejauh mungkin. Ghibah Sebagai Dosa Besar Senada dengan Imam Al-Qurthubi, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa penyamaan ini bukan sekadar kiasan biasa. "Ayat di atas menerangkan sebuah ancaman yang keras dari perbuatan ghibah. Dan bahwasanya ghibah termasuk dosa besar," tulis beliau. Pesan Bagi Muzaki dan Munfik BAZNAS Kabupaten Majalengka mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kesucian amal ibadah. Zakat, infak, dan sedekah yang kita tunaikan adalah sarana pembersihan harta dan jiwa. Namun, kesucian tersebut dapat ternoda jika lisan kita tidak terjaga dari membicarakan aib sesama. Mari kita jadikan momentum ini untuk saling menjaga kehormatan saudara kita, sebagaimana kita menjaga harta yang kita titipkan untuk kemaslahatan umat. Bertaubatlah, karena Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Redaksi BAZNAS Kabupaten Majalengka Membangun Umat, Menjaga Martabat. #BAZNASMajalengka #KajianTafsir #AlHujurat12 #JagaLisan #StopGhibah #ZakatMembersihkanJiwa #MajalengkaLangkungSae
BERITA11/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
Menjemput Keberkahan: Menggali Makna Zakat, Infaq, dan Sedekah untuk Kesejahteraan Umat
Menjemput Keberkahan: Menggali Makna Zakat, Infaq, dan Sedekah untuk Kesejahteraan Umat
Dalam perjalanan hidup, harta yang kita miliki bukan sekadar alat pemuas kebutuhan duniawi, melainkan amanah yang di dalamnya terdapat hak orang lain. Memahami esensi dari Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) adalah langkah awal untuk membersihkan jiwa, menyucikan harta, dan menjemput rida Allah SWT. 1. Memahami Perbedaan ZIS Seringkali kita mencampuradukkan ketiga istilah ini. Berikut adalah panduan ringkas untuk memahaminya: Zakat: Hukumnya wajib bagi yang memenuhi syarat (Nisab dan Haul). Merupakan rukun Islam yang memiliki aturan baku mengenai waktu dan golongan penerimanya. Infaq: Mengeluarkan sebagian harta untuk kepentingan yang diperintahkan dalam Islam. Waktunya bebas dan hukum asalnya adalah sunnah. Sedekah: Cakupannya paling luas. Tidak hanya terbatas pada materi atau uang, tetapi juga mencakup tenaga, ide, hingga senyuman yang tulus. 2. Janji Pahala yang Melimpah Berbagi tidak akan membuat kita miskin. Sebaliknya, Allah SWT menjanjikan investasi akhirat yang luar biasa: Pelipatgandaan Harta: Sebagaimana benih yang tumbuh menjadi ratusan biji, kebaikan yang tulus akan dibalas berlipat ganda. Pembersih Jiwa: Zakat berfungsi mengikis sifat kikir dan sombong serta memberikan ketenangan batin. Penolak Bala: Sedekah dikenal sebagai "tameng" yang dapat menghindarkan kita dari musibah yang tidak terduga. 3. Tips Agar Tidak Lupa dan Terbiasa Berbagi Tantangan terbesar dalam beramal adalah rasa malas dan sifat pelupa. Berikut adalah strategi praktis agar ZIS menjadi gaya hidup: Gunakan Sistem Otomatis: Manfaatkan fitur donasi digital atau pemotongan saldo otomatis setiap tanggal gajian agar kewajiban tertunaikan di awal waktu. Prinsip "Bayar Dulu": Jadikan zakat dan sedekah sebagai pengeluaran pertama dalam pos keuangan, sejajar dengan kebutuhan pokok lainnya. Sediakan Wadah Khusus: Taruhlah celengan atau kotak amal di tempat yang mudah terlihat di rumah untuk membiasakan diri berbagi secara konsisten (istiqomah), meski dalam jumlah kecil. Manfaatkan Pengingat: Pasang alarm atau notifikasi di ponsel pada waktu-waktu utama, seperti setiap hari Jumat atau awal bulan. Penutup: Menuju Majalengka Langkung Sae Setiap rupiah yang kita tunaikan melalui Zakat, Infaq, dan Sedekah bukan sekadar angka, melainkan wujud nyata dari perbaikan ucap, laku, dan perbuatan kita sebagai pribadi yang bertakwa. Pengelolaan dana sosial yang transparan dan amanah dari tingkat pusat hingga daerah adalah bagian dari upaya kolektif kita untuk mewujudkan tata kelola yang lebih baik. Mari kita jadikan setiap aksi nyata ini sebagai langkah konsisten dalam membangun kesejahteraan umat dan mendukung visi Majalengka Langkung Sae—sebuah komitmen untuk menjadikan daerah kita lebih baik, lebih berkah, dan lebih bermartabat melalui kemuliaan berbagi. #ZakatPembersihHarta #InfaqSedekah #BerkahBerbagi #ZakatUntukUmat #SedekahIstiqomah #InvestasiAkhirat #MajalengkaLangkungSae #TataKelolaUmat #MajalengkaBerbagi #KesejahteraanUmat
BERITA11/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
Kebaikan Tidak Melulu Soal Rupiah: Sedekah Ide dan Tenaga yang Tak Ternilai
Kebaikan Tidak Melulu Soal Rupiah: Sedekah Ide dan Tenaga yang Tak Ternilai
Seringkali, ketika mendengar kata "berbuat baik", pikiran kita langsung tertuju pada donasi materi. Padahal, kebaikan memiliki spektrum yang sangat luas. Membantu sesama tidak selalu harus menunggu dompet tebal; setiap niat tulus yang diwujudkan dalam tindakan nyata adalah sebuah kaSAEan (kebaikan). Justru, berbagi melalui ide, gagasan, dan tenaga seringkali memiliki dampak yang jauh lebih "hidup" dan berkelanjutan. Landasan Spiritual Kebaikan Non-Materi Dalam kebijaksanaan spiritual, konsep sedekah sangatlah luas. Tuhan tidak membatasi hamba-Nya untuk mendulang pahala hanya melalui jalur kekayaan. Berikut adalah landasan mengapa ide, tenaga, dan sikap baik adalah ibadah yang sangat mulia: Setiap Tindakan Positif adalah Sedekah: Rasulullah SAW bersabda untuk menegaskan bahwa setiap gerak kita bisa bernilai ibadah: "Setiap persendian manusia wajib bersedekah setiap hari. Engkau mendamaikan dua orang yang berselisih adalah sedekah. Engkau menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya adalah sedekah. Ucapan yang baik adalah sedekah... dan engkau menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah." (HR. Bukhari dan Muslim). Keutamaan Kata-kata dan Maaf: Al-Qur'an menekankan bahwa sikap dan tutur kata yang baik terkadang jauh lebih berharga daripada materi: "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti..." (QS. Al-Baqarah: 263). Menjadi Manusia yang Paling Bermanfaat: Kebaikan melalui tenaga dan gagasan adalah wujud nyata dari misi kemanusiaan kita: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." (HR. Ahmad). Mengapa Ide dan Tenaga Bisa Lebih Mulia? Ide adalah Solusi Jangka Panjang: Uang bisa habis dalam sekejap, namun sebuah gagasan atau solusi untuk masalah seseorang bisa mengubah jalan hidup mereka selamanya. Memberikan "kail" (cara/ide) seringkali lebih menyelamatkan daripada sekadar memberikan "ikan". Keterlibatan Emosional yang Mendalam: Saat kita menyumbangkan tenaga, kita sedang memberikan aset yang paling berharga: waktu. Waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli kembali, sehingga memberikannya untuk orang lain adalah bentuk pengorbanan yang sangat tinggi. Ketulusan yang Teruji: Berbuat baik dengan tenaga membutuhkan usaha fisik dan komitmen mental. Ini adalah bentuk pengabdian murni yang melibatkan raga dan jiwa secara langsung. Manifestasi kaSAEan dalam Keseharian Mari kita tanam benih kebaikan setiap hari melalui hal-hal sederhana: Sedekah Gagasan: Memberikan saran membangun bagi teman yang sedang merintis usaha atau menyumbangkan ide kreatif untuk kemajuan lingkungan. Sedekah Tenaga: Membantu lansia menyeberang jalan, ikut serta dalam kerja bakti, atau sekadar meringankan beban fisik orang di sekitar kita. Sedekah Sikap: Jangan remehkan kekuatan senyuman. Sebagaimana hadist menyebutkan, "Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah bagimu" (HR. Tirmidzi). Penutup Dunia tidak hanya butuh orang kaya yang dermawan, tapi juga butuh manusia-manusia yang peduli dan mau bergerak. KaSAEan yang lahir dari keringat tenaga dan kecemerlangan ide adalah bentuk syukur paling nyata atas fisik dan akal yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. Jangan jadikan "tidak punya uang" sebagai alasan untuk berhenti peduli. Mulai hari ini, mari kita jadikan setiap interaksi kita sebagai ladang untuk menabur manfaat. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa banyak harta yang kita tumpuk, melainkan seberapa luas jejak kebaikan yang kita tinggalkan bagi sesama. Mari jadikan hari-hari kita penuh dengan kebaikan, karena setiap langkah tulusmu adalah sedekah yang tak ternilai.
BERITA11/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
Menjadi Pribadi yang "Langkung Sae": Rahasia Hidup Berkah dalam Islam
Menjadi Pribadi yang "Langkung Sae": Rahasia Hidup Berkah dalam Islam
Setiap manusia diberikan jatah waktu yang sama, namun yang membedakan adalah bagaimana kita mengisi ruang di antara matahari terbit dan terbenam. Dalam ajaran Islam, konsep keberuntungan bukan terletak pada tumpukan harta semata, melainkan pada progres kualitas diri. Ada sebuah ungkapan bijak yang menjadi cermin bagi kita: "Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini." 1. Menanamkan Niat sebagai Fondasi Perubahan yang besar dimulai dari niat yang tulus. Untuk membuat hari kita lebih baik, mulailah pagi hari dengan komitmen bahwa segala lelah dan aktivitas kita adalah bentuk ibadah. Tanpa niat yang benar, hari-hari hanya akan menjadi rutinitas yang hampa tanpa nilai di hadapan Allah SWT. 2. Evaluasi Diri (Muhasabah) Kita tidak bisa memperbaiki apa yang tidak kita ukur. Mengambil waktu sejenak sebelum tidur untuk merenungkan apa yang telah dilakukan sepanjang hari adalah kunci. Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati." (HR. Tirmidzi) Dengan muhasabah, kita bisa melihat kekurangan kemarin untuk tidak diulangi hari ini, sehingga kualitas hidup kita pun perlahan meningkat dan menjadi lebih baik. 3. Mengoptimalkan Ikhtiar dan Tawakal Islam tidak hanya mengajarkan kita untuk berdoa, tetapi juga untuk bekerja keras secara profesional. Keseimbangan antara usaha yang maksimal (ikhtiar) dan penyerahan hasil kepada Allah (tawakal) akan menciptakan ketenangan batin. Jika hari ini kita gagal, tawakal menjaga kita dari keputusasaan. Jika hari ini berhasil, syukur menjaga kita dari kesombongan. Dasar utama dari motivasi ini terdapat dalam firman Allah SWT: ??? ???????? ????????? ??????? ???????? ??????? ???????????? ?????? ??? ????????? ?????? ? ?????????? ??????? ? ????? ??????? ??????? ????? ??????????? "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hashr: 18) Kata Penutup Menjadi lebih baik dari hari kemarin bukanlah tentang kompetisi dengan orang lain, melainkan kompetisi dengan diri kita sendiri. Mari kita jadikan setiap detik sebagai peluang untuk menebar manfaat, memperbaiki ibadah, dan memperkuat dedikasi kita. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan agar hari-hari yang kita lalui selalu berada dalam keridaan-Nya dan senantiasa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dalam segala aspek. #MotivasiIslam #LangkungSae #MuhasabahDiri #IslamiDaily #SelfImprovement #Hijrah #JumatBerkah #MajalengkaLangkungSae
BERITA11/04/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Majalengka.

Lihat Daftar Rekening →